22 Desember 2014

eh muncul maning

tes tes

28 Juli 2012

Kisah Uang Seribu Dan Seratus ribu



Uang Rp 1000 & Rp100.000 sama-sama terbuat dari kertas, sama-sama dicetak dan diedarkan oleh BI. Ketika bersamaan mereka keluar dan berpisah dari Bank dan beredar di masyarakat.

4 bulan kemudian mereka bertemu lagi secara tidak sengaja di dalam dompet seorang pemuda. Kemudian di antara kedua uang tersebut terjadilah percakapan. Yang Rp 100.000 bertanya kepada Rp 1.000,

"Kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor dan bau amis?"

Rp. 1.000 menjawab,

"Karena aku begitu keluar dari Bank langsung ditangan orang2 bawahan dari tukang becak, tukang sayur, penjual ikan dan ditangan pengemis"

Lalu Rp.1000. Bertanya balik kpd Rp 100.000,

"Kenapa kamu kelihatan begitu baru, rapi dan masih bersih?" Dijawabnya, "Karena begitu aku keluar dari Bank, langsung disambut perempuan cantik, dan beredarnya pun di restoran mahal, di mall dan juga hotel-hotel berbintang serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet"

Lalu Rp 1000 bertanya lg,

"Pernahkah engkau mampir di tempat ibadah?"

Dijawablah, "Belum pernah"

Rp 1000 pun berkata lg,

"Ketahuilah walaupun aku hanya Rp 1.000, tetapi aku selalu mampir di rumah TUHAN dan di tangan anak-anakyatim, bahkan aku selalu bersyukur kepada TUHAN. Aku tidak dipandang bukan sebuah nilai, tetapi adalah sebuah manfaat"

Akhirnya menangislah Rp 100.000 karena merasa besar, hebat, tinggi tetapi tidak begitu bermanfaat selama ini. Jadi bukan seberapa besar penghasilan kita, tetapi seberapa bermanfaat penghasilannya dipakai untuk memuliakan TUHAN dan sebagai channel of blessing bagi orang yang tidak mampu. Karena kekayaan bukanlah untuk kesombongan!!

Semoga ini menjadi renungan untuk kita,

#dari berbagai sumber

23 Juli 2012

Ilir ilir Bukan Sekedar Tembang Biasa



Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…
 



Saya sering mendengar irama tembang ini dilantunkan sebagai pengiring sinetron Walisongo yang disiarkan oleh salah satu stasiun Tv. Tembang ini sering dianggap sebagai tembang dolanan atau lagu yang dinyanyikan saat bermain-main oleh anak-anak pada saat terang bulan. Bahkan di daerah Jogja dan sekitarnya tembang ini dinyanyikan pada saat bermain Nini Towok, atau Jalangkungan.
Bagi mereka yang merupakan orang Jawa atau besar di Jawa mungkin sudah akrab dengan tembang Ilir-ilir, atau paling tidak pernah mendengarnya. Bagi mereka yang bukan orang Jawa pun mungkin pernah mendengar atau melihat Emha Ainun Najib dengan grup musik Kiai Kanjeng membawakan lagu ini.

Tak banyak yang menyadari bahwa sesungguhnya tembang ini bukan sekedar tembang dolanan biasa. Ada makna yang sangat dalam yang terkandung dalam tembang sederhana ini. Sekalipun demikian tidak ada yang tahu pasti siapa yang menciptakan tembang ini. Mungkin karena tembang ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Ada yang mengatakan penciptanya adalah salah seorang dari Wali Sanga atau Songo atau Sembilan Wali yang terkenal sebagai para penyebar Islam di tanah Jawa. Dari kesembilan waliyullah itu ada dua orang yang disebut-sebut sebagai penciptanya yaitu Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga. Tetapi bila dilihat dari kedekatan Sunan Kalijaga dengan budaya Jawa dan fakta bahwa beliaulah pencipta beberapa kesenian Jawa yang digunakan sebagai alat syiar agama Islam. Maka bisa dianggap bahwa Sunan Kalijagalah yang merupakan pencipta tembang ini.

Tembang karya Kanjeng Sunan ini memberikan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah. Carrol McLaughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini, beliau sering memainkannya. Maya Hasan, seorang pemain Harpa dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu ini. Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah menterjemahkan lagu ini dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart“.

Berikut ini adalah penjabaran dari makna yang terkandung dari Tembang Ilir-ilir itu. Baik berupa makna harfiah atau terjemahannya dalam bahasa Indonesia , atau makna sesungguhnya yang terkandung di dalamnya.

>>> 

Ilir-ilir

Ilir-ilir, Ilir-ilir, tandure (hu)wus sumilir
(Bangunlah, bangunlah, tanamannya telah bersemi)
Kanjeng Sunan mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun dan bergerak. Karena saatnya telah tiba. Karena bagaikan tanaman yang telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali. 

Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
(Bagaikan warna hijau yang menyejukkan, bagaikan sepasang pengantin baru)
Hijau adalah warna kejayaan Islam, dan agama Islam disini digambarkan seperti pengantin baru yang menarik hati siapapun yang melihatnya dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya. 

Cah angon, cah angon, penek(e)na blimbing kuwi
(Anak gembala, anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu)
Yang disebut anak gembala disini adalah para pemimpin. Dan belimbing adalah buah bersegi lima, yang merupakan simbol dari lima rukun Islam dan sholat lima waktu. Jadi para pemimpin diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk memberi contoh kepada rakyatnya dengan menjalankan ajaran Islam secara benar. Yaitu dengan menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu. 

Lunyu-lunyu penek(e)na kanggo mbasuh dodot (s)ira
(Biarpun licin, tetaplah memanjatnya, untuk mencuci kain dodot mu)
Dodot adalah sejenis kain kebesaran orang Jawa yang hanya digunakan pada upacara-upacara atau saat-saat penting. Dan buah belimbing pada jaman dahulu, karena kandungan asamnya sering digunakan sebagai pencuci kain, terutama untuk merawat kain batik supaya tetap awet. Dengan kalimat ini Sunan Kalijaga memerintahkan orang Islam untuk tetap berusaha menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu walaupun banyak rintangannya (licin jalannya). Semuanya itu diperlukan untuk menjaga kehidupan beragama mereka. Karena menurut orang Jawa, agama itu seperti pakaian bagi jiwanya. Walaupun bukan sembarang pakaian biasa. 

Dodot (s)ira, dodot (s)ira kumitir bedah ing pingggir
(Kain dodotmu, kain dodotmu, telah rusak dan robek)
Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek. 

Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore
(Jahitlah, tisiklah untuk menghadap Gustimu nanti sore)
Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh karena itu disebut 'paseban' yaitu tempat menghadap raja. Di sini Sunan Kalijaga memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar, untuk bekal menghadap Allah SWT di hari nanti. 

Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane
(Selagi rembulan masih purnama, selagi tempat masih luas dan lapang)
Selagi masih banyak waktu, selagi masih lapang kesempatan, perbaikilah kehidupan beragamamu. 

Ya suraka, surak hiya
(Ya, bersoraklah, berteriak-lah IYA)
Di saatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa nanti, sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan beragamanya dengan baik untuk menjawabnya dengan gembira.

>>>

Demikianlah petuah dari Sunan Kalijaga lima abad yang lalu, yang sampai saat ini pun masih tetap terasa relevansinya. Semoga petuah dari salah seorang waliyullah kenamaan ini membuat kita semakin bersemangat dalam menjalankan ibadah kita di bulan yang penuh rahmat ini. Aamiin, aamiin, aamiin.


* Diambil dari berbagai sumber. Mohon dikoreksi jika ada kesalahan, karena saya juga manusia yang tak pernah lepas dari salah dan dosa.