Telah empat tahun, maaf aku ingat kamu kawan ketika kemarin, aku dan kawan kita bertemu untuk saling melunasi rindu.
..
Mudik
serupa katamu, adalah momen yang paling menyenangkan bagi kita yang
sukses merantau di kota. Terlebih lagi jika menggunakan kendaraan
pribadi.
Seperti ketika kau parkirkan motor barumu di teras rumahku yang lusuh,
“Laki-laki
itu motornya ya harus begini..” katamu, sembari menepuk roda motor
belakang yang berukuran cukup besar sedikit melebihi standar.
Sepasang
matamu merona bangga, terlebih aku sebab kau adalah temanku. Kau
ceritakan jalan-jalanmu sampai pada tempat yang tak disangka-sangka
olehmu, terlebih aku sebab aku begitu mengenalmu.
Tidak kutemui
wujud kesombongan, yang ada ketika itu kau mengajakku bergembira
menikmati kesuksessanmu. Salut kawan! Aku turut menepuk dada di
sampingmu.
“Tak ada pelajaran sekolah yang membantu, hanya
keberuntungan yang menaungiku.” katamu. Tapi entah kenapa aku selalu
kurang setuju dengan keberuntungan. Yang ada menurutku, hanyalah doa
beserta ikhtiar yang tepat, dan kamu sudah melakoni hal itu.
Dan
suara motormu garang begitu kau nyalakan dengan sedikit menghentakkan.
Aku seperti mendengar ada teriakan yang memaksa mataku untuk menilik dan
mengeja wajahmu yang terlihat pasi dan lugu, seperti bayi yang kembali
lucu.
Andai saja ketika itu aku fasih mengartikan, atau kamu
sanggup berpesan, mungkin saja aku bisa berusaha agar kau tak lebih
dulu, meninggalkanku, menuju tempat bernama surga.
*juga diadopsi dari cerita kawan yang lebih dekat dengannya, NS